Jumat, 29 Juli 2016

Surat Terbuka Untuk Sang Motivator

ANTARA BERMAKNA, MOTIVASI, PROFESIONALISME DAN KEPEPET BUTUH

Siang itu di sebuah sekolah kelas menengah, kami berkumpul bersama mendengarkan simpulan motivator dengan semangat membara memberikan nasihat petuah, untuk kemajuan bersama.

Untuk Bapak motivator yang terhormat,
Berikanlah kami angin segar bagaimana kami memaknai tindakan yang benar bukan tindakan yang sempurna, saya juga perlu mentor tidak peduli dengan umur, saya selalu membutuhkan bimbingan dari orang yang lebih senior  entah dari atasan, teman sebaya, dan yang lain tentang semua hal. Saya juga berprinsip bahwa belajar dari orang lain yang lebih berpengalaman tentu akan sangat membantu. saya juga mencoba memperbanyak teman yang lebih kompeten yang lebih sukses dan lebih berpengalaman lalu belajar dari mereka.

Bapak motivator yang terhormat
Profesi Guru hingga saat ini sangat membanggakan bagi saya yang hanya Guru GTT, berikanlah kami petuah untuk menuju rasa Profesionalisme yang nyata, sangat sulit rasanya untuk mengikuti jejak Ki Hajar Dewantoro dalam keadaan sekarang ini, atau sekedar memahami filosofi Aristoteles bahwa tugas guru adalah melayani dan menemani murid. Jujur, Iklas, Syukur dan Ide baru telah saya lalui, pengalaman bapak mungkin lebih jauh beratnya dari pada pengalaman atau jalan hidup saya, maka dari itu sudilah kiranya memberikan kami panutan kisah yang jelas, karena saya tidak butuh sebuah kata tanpa Nyata, kami butuh sebuah penyegaran Ide – Ide Edan Tapi Ora Nglanggar Aturan, Baik Aturan Agama Maupun Norma. Berikanlah Kami semangat bahwa Profesionalisme itu adalah Sebuah Kerja Keras yang Muaranya akan membuat Hati bahagia, Bukan membuat Sengsara.
Dalam dunia yang sudah penuh dengan keberpihakan ini sulit rasanya mengembangkan sikap Profesionalisme jika dibenturkan dengan kepepet kebutuhan, Guru GTT yang sekarang dituntut Modern sesuai perkembangan jaman, kadang saya miris melihat guru GTT  dengan tampang jenaka riang gembira, disuka siswa, dengan metode yang atraktif, inofatif, Reaktif, positif dan if..if.. yang lain, tapi tak punya apa-apa untuk sekedar langganan Koran, apalagi beli Avanza, tiap Gajian habis untuk bayar Utang, dikala semua telah merasakan Nikmatnya dunia, mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama, kami tetap dipandang sebelah mata, oleh mereka yang tak peka, oleh mereka yang lupa dulu siapa, oleh mereka yang menggangap kami ini Cuma penggembira saja.
sikap Iklas menjalankan tanggung Jawab dengan sepenuh hati, Akan Luntur dengan keadaan Kebutuhan Sehari Hari. Tapi rasa Syukur saya Kepada Tuhan mendinginkan Hati, dan menjauhkan dari kegalauan Diri. Maka Dari itu berikanlah saya nasihat – nasihat yang nantinya bisa saya jadikan pegangan Hidup untuk Meraih Piala Profesional.

Bapak Motivator yang terhormat.
Mohon maaf saya tidak mempedulikan hidup saya itu bermakna atau tidak, yang jelas kedua orang tua saya berpesan bahwa hidupmu harus selalu berbuat baik, menghasilkan yang baik, memberikan yang baik, mudah mudahan tuhan akan memberi yang terbaik.  
Terima Kasih saya haturkan kepada bapak Motivator yang siang tadi memberikan sedikit pemikiran dan mudah mudahan memunculkan Ide – Ide Edan Tapi mapan.


Dari Saya yang Hanya Seorang Suporter Persis SOLO
Sekaligus Sebagai Guru Tidak Tetap
Yang Penghasilanya Juga tidak Tetap

Minggu, 26 Juni 2016

Nama memang Sungguh Berarti

Nama memang Sungguh Berarti


            Pengalaman yang mengesankan ini saya dapatkan pada saat ujian kompetensi desain grafis di kota pahlawan Surabaya, ujian yang sebelumnya di berikan pembelajaran desain grafis selama seminggu ini memberikan pengalaman yang berharga bagi saya yang ndak mungkin terlupakan, ujian kompetensi yang di ikuti oleh semua guru computer maupun guru yang lain seluruh jawa timur,
Sebelumnya sempat ndak percaya dengan saya yang di minta untuk mewakili sekolah untuk unjuk gigi ke Surabaya ini. La wong Latihan desainya saja saya dapat dari belajar sendiri alias otodidak alias Blajar dewe, ya maklum kalau saya agak sedikit ndredeg , dengan persiapan yang ala kadarnya saya berangkat ke Surabaya dengan di temani penasehat spiritual saya bapak jemi darmawan sekaligus merangkap teman seperjuangan senasib, sehidup semaput,
Perjalanan di mulai deangan naik travel alfath dari pacitan jam 10 pagi berharap sampai di Surabaya agak sore. Sesampainya di Surabaya memang agak sore tapi karena travelnya banyak penumpang yang harus di antar maka sampai di lembaga Ujian Sudah malam, rasa panik kami berdua memuncak tatkala sampai tujuan jam 8 malam. Oh my god. Perasaan bercampur waswas nek ra entuk lawang piye bercampur kluwenen sudah memuncak sampai ubun ubun. Akirnya sampai di sana kita di sambut satpam dengan penuh rasa mesakne (kasihan).

“Dari Mana pak”? Tanya Pak satpam
‘Dari tadi pak”. Jawab saya sambil guyon maklum kekeselen
Untung Pak satpam tidak marah.
Akhirnya pak jemi menjawab dengan diplomatis, “kami Dari Pacitan Pak”. Pak satpam terperanjak dan memaklumi keadaan, karena Kab. Pacitan merupakan peserta terjauh se jawa Timur.
Tidak berselang lama Pak Satpam Menghantarkan Kami berdua ke Kamar yang sudah di siapkan Untuk peserta Ujian Desain Grafis. Petualangan saya dimulai dari sini, pertama yang diantar adalah pak jemi menuju kamarnya yang agak jauh dengan saya,
“maaf Pak fitri Menunggu disini Dulu Ya” kata Pak satpam,
“Okelah Pak” jawab saya.
Saya menunggu dengan perasaan waswas, mengapa saya di pisah dengan penasihat spiritual saya, mengapa ini terjadi.
Setelah teidak berselang lama akhirnya Pak satpam tadi mulai menghampiri saya dan berkata;
“ monggo pak saya antar ke kamar anda”,
kami berdua mulai melangkah deangan penuh kepercayaan dan optimisme tinggi, dengan jalan yang berkelok kelok wedi nek keblasuk sampailah saya ke kamar yang sudah di daftar menjadi hak saya. Saat itu pak satpam terperanjak bukan main.
“lho kok iso “(lo kok Bisa) kata Pak satpam
“ada apa Pak”. Jawab saya.
“La ini kok di depan kamar bapak, banyak sandal Wanita.”?
Ladalah La Pripun Pak” saya kembali menjawab.
Kemudian pak satpam mengambil telepon dan meminta penjelasan kepada panitia terkait hal tersebut.
Kemudian pak satpam guya guyu dew era jelas, saya tambah panik Ojo ojo sing ngeterne aku rodo Ra Genep. Setelah guya guyu pak satpam malah tertawa terbahak bahak. Saya tambah takut sekaligus pingin tahu
“ wonten nopo pak?”
Sambil tertawa Pak satpam bilang “ namanya jenengan Itu Fitri ya”?
“Inggih Pak” jawab saya.
Oalah….jenengan itu terdaftar disini sebagai peserta wanita, jadi anda di daftar berada di kamar wanita. Saya terkejut sekaligus Mesam Mesem Sambil Misuh –misuh, beberapa saat itu saya langsung tertawa guyu kemekelen dengan pak satpam.
Pak satpampun berkata. La kimau Nek ra Konangan Aku, Kesenengen Jenengan Pak. Lanang dewe ning kamar sing Wedok….
Saya cuma Menjawab Oalah Wedus Prucul. Jenengku di anggep Wong Wedok. Yo cen Iyo, Saya Juga bisa memaklumi, tapi saya tetap bangga dengan nama pemberian orang tua saya. FITRI DWI WAHYU WIDYANTO. 


 

Jumat, 24 Juni 2016

Sikuning, Menggemparkan Nan Menggemaskan

Sikuning, Menggemparkan Nan Menggemaskan


            Petualangan ini di mulai lagi masih seputar arung jeram yang belum sempat saya posting, setelah kemobat mabitan perahu sampai Coco yang Imut Kejegur, petualangan yang Maha Dasyat lanjut dengan upaya menjinakan si Kuning yang menggemaskan, Pertama kita tidak menyadai akan hal itu, kita terlena dengan keindahan alam yang sangat mempesona, Air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan, Serta Keramahan Orang Sekitar Sedang Duduk-duduk di pinggir sungai, ada anak anak yang berenang, ada orang tua yang jongkok setengah badanya masuk ke air, ada yang mincing, ada pula yang pacaran. setelah kejadian Coco kejegur kita lantas waspada seperti pasukan elit sedang berperang. Kewaspadaan kami mengalahkan Tim Penjinak Bom saja, maklum kejadian tadi memang memeras tawa. Mata, pandangan, konsentrasi, kita curahkan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya untuk kesuksesan arung Jeram kita. Maklum Prinsip Kita Sebagai Tim Gegap Gempita adalah Jangan Sampai Kalah dengan pak kepala Sekolah….hehehe..Piss...Guyon Pak.
            Setelah beberapa saat konsentrasi yang tadi kita jada keperawanannya akhirnya terkoyak dengan hal yang menghebohkan sekaligus mengurangi kesakralan kita dalam menikmati alam kali Elo….saya terkaget dengan teriakan Si Anggris….
”Kui Opo cah Sing Kuning..Kuning Kui…hahahaha”
sambil tertawa dan mengangkat kakinya tinggi tinggi seolah olah menemukan ranjau darat….teriakan itu akhirnya mengalihkan konsentrasi yang methentheng tadi kearah pingin tahu. Haryono sebagai pihak yang selalu pingin tahu mulai bertanya
” Enek Opo Nggris”…
“enek Kuning- Kuning Cah…”
“ Kuning Opo Neh…Crigis Ae..?
Semua tertawa Kepingkel Pingkel…..
            Setelah sekian lama kita juga penasaran dengan kecrigisan si Ketua Kelompok ini, Kita Langsung Menyelidiki dengan indera penciuman, perasa, dan indera pengelihatan, kita mulai mengesampingkan arung jeram kita mulai memelankan perahu, kita mulai clingak clinguk bagaikan densus 86, mencari Informasi apa yang telah di berikan oleh si Anggris tadi. Selang beberapa waktu yang di cari muncul lagi.
“la Kui Cah…” kata si Anggris
“endi To…”
“ Kui Lo Ning Ngisore Si Anjur”….
Dengan Kaget Dan Sedikit Sok Jaim..Anjuraspun Menjerit….
“TAI…..Tai…..Tai…cah……..”
“La IKi ning Ngisorku,”
Tak Berselang Lama Kita Melewati Jeram, Si Kuning pun Menghilang. Beberapa Waktu Kemudian Anjur Menjerit Lagi….
“ La Iki Coooaaahhh….Ning Kathokku Coah….Iyyeeeekkk…”
Tanpa Berfikir Panjang Anggris Ketua Merasa Bertanggung Jawab, dengan sigap Agak Miris Merinngis, Gilo Sekaligus Nggilani Langsung Memungut Si Kuning Itu, Lalu membuangnya.
Seketika Itu Juga Saya Sebagai Seorang Jiwa Petualang Langsung Ngakak Guyu Kemekelen…
Ternyata yang Cukup Meresahkan Kami seperahu Tadi ADalah Seonggok TAI kecil, Kuning Kemampul Di Dalam Perahu, Dan Ternyata Pula Sudah Lama Singgah Di Kathoknya Anjuras….
Sambil Tertawa kita Juga Menyadari Bahwa Pepatah “ Setitik Air Tuba Rusak Susu Sebelanga, Setitik TAI, Rusak Pikniku ini…hhhh..

Tapi tak Apalah Yang penting Saya tidak kena Dampak Dari Peredaran Si Kuning, Kecil Menggemparkan nan Menggemaskan. Salam Kemampul….

Minggu, 19 Juni 2016

Segarnya Air Kali Elo

Segarnya Air Kali Elo

            Agenda yang dinanti segenap Guru SMKN 2 Donorojo selama berabad abad akhirnya kesampaian juga, Pinik Keluarga besar Guru dan TU ke magelang menuju ke kali elo, yang merupakan destinasi baru di magelang. Agenda itu telah rampung diagendakan Oleh Seorang Sebut saja Sipur And Friend, mengapa Harus Ke Kali padahal di Kalak juga Ada kali, tapi kali ini jangan salah kita diajak untuk Berarung Jeram yang dahulu hanya kita Lihat saja di televisi Saja.
            Perjalanan kita mulai dengan membaca doa Bismillah hirohmannirohim, naik Bis dengan Kaki Kanan dulu, tempat duduk masih longgar maklum Peserta Sedikit, tapi tidak mengurangi rasa antusias untuk berwisata ke Kali Elo, Pagi itu Rasanya Luar Biasa Gembira Tiada Tara, Pak Edi dengan Canda Tidak Bisa Tidur Semalam Karena Ngengen engen Ale Arep Piknik Ae, Wiris Munggah Bis Sampai Tujuan Kur Turu Ae, Maklum Wedi Mabuk, saya sebagai Pihak Yang Paling Gembira Tiada Tara ya Kojah Saja, Tugas Saya Memberikan Pencerahan dan Nasihat-nasihat Agama Kepada Mereka..yo ra ri….
            Setelah Sekitar 4 Jam perjalanan, Kami Sampailah di Tempat Tujuan Di Kampung Ulu Tempat Transit nan Nyentrik. Setelah Di komando Siap Grak, Kita diminta untuk ganti Baju, Celana, Sempak, Pakai Hand Body, Sun Block Dan Perawatan Lain. Karena Semangat Yang Membara Saya pun Ndak Peduli Langsung Saja Cupot Katok Gaul, Berganti Katok Kolor Nan menawan di dalam BUS Tunggal Dara.
            Setelah semua Siap Tanpa di komando kita langsung panjatkan doa, foto –foto dan Berangkat… Sebelum Ke kali Elo, Kita DiAntar Oleh Mobil Angkutan Khusus yang di sediakan olah EO untuk mengantar kami ke Kali Elo.
            Setelah sampai Di Kali ELO, kita diminta untuk membuat kelompok setiap kelompok terdiri dari 6 Orang, dengan Anggris Sebagai Ketua Tim Penggerak, Saya, Haryono, Anjuras, Koko, dan Bu wardani ditemani 1 Guide Mas Mas Mahasiswa Dari Jogja.
 
 
Ra gagas Jeram Sing Penting Poto Poto.

Indahnya Kebersamaan


            Hal Pertama yang Kami rasakan setelah naik Perahu aDalah Hiyat Hiyut Rodo Medeni Ning Asik, Dayungan Pertama Kami Sukses Nabraki Suket Pinggir Kali Alias Muntar Muntir Ra Genah, tetapi dengan Kecakapan Mas Mas Guide Kami Kembali Kejalur Yang Benar Lurus nan Menawan. Mungkin ini adalah pengalaman pertama kita untuk unjuk gigi dalam Arung Jeram Yang Mengasikan ini. Kami Mendayung dengan Gegap Gempita Bengak Bengok Ra Karukaruan, dayungan Kami Juga Ala Kadarnya Ndak Kompak Kompak Amat Maklum Ketua Tim Penggerak Kami Malah Tidak Mengajak KomPak Tapi Beliau Sibuk Cerita kehidupanya…hhhhh
            SEkejab saja kita telah sampai pada jeram kata mas Guide Hati Hati Tolong Pegangan Yang erat Se Erat Perangko Dan Amplopnya, Komando Itu membuat saya Semakin Waspada, Jeram Demi Jeram Kita Lalui Sampai Akhirnya Saking Semangat Dan Tenaga Yang Memudar Coco Sebagai Sosok Yang Nglamunan Kejegur dengan Perasaan kacau Coco Mobat Mabit di terjang Air, Glogap Glagep Ngombeni Banyu, Seketika Itu Juga Haryono Tersadar coco Yang Imut Kejegur, Dengan Lantang Saya Perintahkan Haryono Untuk Menolong Coco
 “ Har.. Tulungen coco”!
“ Piye Cah Le Nulung”?
. “Meluo Jegur, Har…Sahut Saya
DapurMu Sempal Kui” Sahut Haryono..
Akhirnya Dengan Perjuangan Yang Melelahkan Si Coco Terselamatkan oleh jiwa Pemberani Haryono
Sedangkan Saya Kur Guyu Kemekelen Campur Misuh Sak Misuh Misuhe
Coco terlihat Panik, Pucet Ngasi Ra Ngerti Lor Kidul, Ndredege Pol, Jantungnya Berdetak Kencang, Kakinya Mbarut Mbarut, Weteng Klempoken Kokean Ngombe Banyu….hhhhhh…Seger Co Banyu Kali ELo…..hahahaha..

TIM GEGAP GEMPITA

Senin, 18 Januari 2016

CERITA DI TELENG RIA BERSAMA KELUARGA






Rabu, 25 November 2015

ANJANGSANA PENDOPO KAB. PACITAN






Jumat, 06 November 2015

HUT 70 KEC. DONOROJO







Template by : kendhin x-template.blogspot.com